Buku Kaidah Menafsirkan Al-Quran (Pustaka Ar-Rayyan)

Penerbit: Pustaka Ar-Rayyan


  • 21.000,00
Ongkos kirim dihitung saat checkout


Buku Kaidah Menafsirkan Al-Qur’an

Oleh: asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Pustaka ar-Rayyan

Ilmu ushul tafsir merupakan salah satu ilmu yang paling penting untuk menafsirkan dan memahami al-Qur’an, dan ia dikatakan sebagai semulia-mulianya ilmu karena dengan ilmu tersebut kita dapat memahami makna-makna kalam Allah dengan benar dan jelas.

Asy-Syaikh yang mulia Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah telah meletakkan kaidah-kaidah dasarnya dalam menafsirkan al-Qur’an dengan harapan buku ini dapat dijadikan sebagai rujukan dan pegangan bagi orang yang hendak menafsirkan dan ingin memahami al-Qur’an dengan benar sesuai yang dimaukan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Khususnya di zaman modern ini banyak pihak yang bermudah-mudahan dalam menafsirkan al-Qur’an dengan ra’yunya (pendapatnya) dan lain sebagainya, padahal di sana terdapat ancaman dari Allah dan Rasul-Nya.

Allah Ta’ala berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (Surat al-Isra: 36).

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam juga bersabda:

من قال في القرآن بغير علم فليتبوأ مقعده من النار

“Barangsiapa yang berkata tentang al-Qur’an tanpa ilmu maka siapkanlah tempat duduknya di Neraka.” (HR. at-Tirmidzi 2950. Hadits ini diperslisihkan statusnya oleh para muhadditsin. at-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih”. Namun yang tepat, hadits ini lemah karena terdapat perawi Abdul A’la ats-Tsa’labi yang statusnya dha’iful hadits. Hadits ini didhaifkan oleh al-Albani dalam Silsilah Ahadits Dha’ifah (1783), Ahmad Syakir dalam Ta’liq Musnad Ahmad (3/341), dan para muhaqqiq lainnya. Namun hadits ini shahih secara mauquf dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu, dan dihukumi marfu’ karena isinya adalah hal yang tidak ada ruang untuk berijtihad. Sehingga hadits ini bisa digunakan untuk berhujjah. Selain itu, Syaikh Ibnu Baz dalam Fawaid Ilmiyah min Durus Baziyah (8/111) mengatakan: “Hadits ini terdapat kelemahan, namun maknanya benar.”)

Dari Jundab bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu:

من قال في القرآن برأيه فأصاب فقد أخطأ

“Barang siapa siapa yang berkata tentang al-Qur’an sebatas dengan opininya, lalu kebetulan ia benar, maka ia tetap salah.” (HR. at-Tirmidzi no. 2952. Hadits ini juga diperselisihkan statusnya, dihasankan oleh sebagian ulama, namun yang tepat ia adalah hadits yang lemah karena terdapat Suhail bin Abi Hazm, perawi yang lemah. Syaikh Ibnu Baz dalam Fawaid Ilmiyah min Durus Baziyah (8/111) mengatakan: “Mengenai derajat hadits ini ada perselisihan yang ringan, namun maknanya benar”. Takhrij hadits ini kami kutip dari muslim.or.id/28810)

Dan menafsirkan dengan ra’yu bukannya makin mendekatkan diri kita kepada Allah, justru makin menjauhkan orangnya dari kebenaran al-Qur’an yang di dalamnya terdapat petunjuk Allah. Di sisi lain jika kita benar di dalam memahami Kitabullah yakni dengan penafsirannya yang shahih maka al-Qur’an makin nampak indah dan menakjubkan bagi pembacanya.

Buku Kaidah Menafsirkan Alquran Penerbit Pustaka Ar-Rayyan, Buku cetak edisi softcover, tebal buku 182 halaman, ukuran buku 12 x 18 cm, dan dengan berat 359 gram. Penulis: Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Penerbit: Pustaka Ar-Rayyan, Harga Rp. 21.000,-


Kami Juga Merekomendasikan