Buku Keajaiban Thibbun Nabawi (Al-Qowam)

Penerbit: Al Qowam


  • 53.000,00
Ongkos kirim dihitung saat checkout


Buku Keajaiban Thibbun Nabawi

Oleh: Ustadz Aiman bin Abdul Fattah, al-Qowam

Ketika hendak memberi pengantar sebuah buku tentang thibbun nabawi (pengobatan ala Nabi), tidak ada yang saya rasa lebih tepat untuk saya tegaskan, kecuali bahwa Islam adalah agama yang cocok dengan setiap tempat dan zaman. Ini bukan sekedar slogan dan pengakuan, tetapi fakta yang bisa dilihat di zaman sekarang, ketika banyak penyakit berkembang dan menyebar, meskipun ilmu kedokteran dan pengobatan telah berkembang pesat. Memang, di zaman sekarang banyak metode pengobatan diciptakan, berbagai penemuan baru bermunculan, mulai dari berbagai jenis analisis, penyinaran, operasi bedah, bahkan hingga transplantasi organ tubuh yang sakit dengan organ yang sehat.

Meski adanya kemajuan yang begitu menakjubkan, namun hingga sekarang penyakit-penyakit lebih dominan daripada harapan, bermacam-macam wabah semakin menghebat, sehingga memupus harapan untuk mengobati, mencegah, atau membatasi penyebarannya. Maha Suci Allah, Sang Maha Raja. Ini ketetapan Allah. Ketentuan Allah pasti terlaksana, tidak ada yang bisa menolak atau mengubah ketentuan-Nya, dan Dia Maha Lembut lagi Maha Tahu.

Saya ingin mengingatkan pada persoalan paling penting menyangkut tema ini, yaitu di manakah kesungguhan tawakal kaum muslimin yang sakit di zaman sekarang, dalam bertawakal kepada Allah menyangkut persoalan kesembuhan?

Memang, realita membuktikan bahwa persoalan pengobatan  saat ini bisa dikatakan nyaris kembali kepada Islam. memang, pengobatan dengan bekam, habbatus sauda’, madu, dan prinsip-prinsip metode pengobatan Islami lainnya semakin populer secara internasional. Tetapi, siapakah di zaman sekarang yang mau menasehatkan kepada kaum muslimin agar mereka bergantung kepada Allah terlebih dahulu, sebelum kepada terapi fisik, yaitu dengan berdo’a, bertawakal secara benar kepada Allah, bersedekah, dan sebagainya …?

Seakan-akan kaum muslimin pada hari ini, termasuk kalangan umat Islam yang taat  kepada agama, bahkan di kalangan para da’i dan tokoh agama lainnya, tidak menghafal perintah, “Berobatlah, wahai hamba-hamba Allah,” lantaran sibuk mengingat ‘berobatlah’, meskipun mereka mengerti hadits-hadits tentang ruqyah, doa, anjuran tidak berobat, karena tidak berobat itu lebih afdhal (hukum berobat diperselisihkan menjadi lima pendapat, pembaca dapat menyimaknya pada hal. 9-11). Untaian kalimat-kalimat di atas merupakan mukadimah yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Husain Ya’qub terhadap buku ini.

Anjuran Berobat Secara Umum

Rasulullah ﷺ:

مَا أَنْزَلَ اللهُ دَاءً إِلَّا أَنْزَلَ لَهُ شِفَاءً

“Tidaklah Allah menurunkan penyakit kecuali Dia juga menurunkan penawarnya.” (HR Bukhari).

Rasulullah ﷺ, bahwasannya beliau bersabda,

لِكُلِّ دَاءٍ دَوَاءُ، فَإِذَا أُصِيْبَ دَوَاءُ الدَّاءِ بَرَأَ بِإِذْنِ اللهِ عَزَّ وَ جَلَّ

“Setiap penyakit ada obatnya. Apabila obat itu tepat untuk suatu penyakit, penyakit itu akan sembuh dengan seizin Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Muslim)

Buku Keajaiban Thibbun Nabawi Penerbit Al-Qowam, Buku cetak edisi softcover, tebal buku 350 halaman, ukuran buku 15 x 23 cm, dan dengan berat 486 gram. Penulis: Aiman bin Abdul Fattah, Penerbit: Al-Qowam, Rp. 53.000,-


Kami Juga Merekomendasikan