Buku Kisah Hidup Ulama Rabbani

Penerbit: Zam-Zam


  • 95.000,00
Ongkos kirim dihitung saat checkout


Buku Kisah Hidup Ulama Rabbani

Oleh: Ustadz Abdul Fattah bin Muhammad, Penerbit Zam-Zam

Waktu bagaikan pedang (al-waqt ka syaif), kata orang Arab, adapula yang menyatakan bahwa waktu adalah uang (time is money). Dan seorang muslim yang baik ialah yang mampu memanfaatkan waktunya dengan baik, ia tidak ridha waktunya terbuang percuma tanpa faidah berharga. Tentang besarnya nikmat waktu ini, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengingatkan,  “Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang.” (HR. al-Bukhari, no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Dari Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam memgang pundakku, lalu bersabda, ‘Jadikanlah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.'” Lalu Ibnu `Umar radhiyallahu `anhu berkata, “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi, dan jika engkau di waktu pagi, maka jangnlah menunggu sore, dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum engkau sakit dan waktu hidupmu sebelum kamu mati.” (HR. al-Bukhari).

al-Ustadz Muhammad Abduh Tuasikal mengutip perkataan Ibnu Baththal yang mengatakan, “Seseorang tidaklah dikatakan memiliki waktu luang hingga badannya juga sehat. Barangsiapa yang memiliki dua nikmat ini (yaitu waktu senggang dan nikmat sehat), hendaklah ia bersemangat, jangan sampai ia tertipu dengan meninggalkan syukur pada Allah atas nikmat yang diberikan. Bersyukur adalah dengan melaksanakan setiap perintah dan menjauhi setiap larangan Allah. Barangsiapa yang luput dari syukur semacam ini, maka dialah yang tertipu.” (rumaysho.com/634)

Penulis mengajak Anda untuk memanfaatkan waktu sebaik mungkin, dan menyertakan beberapa kisah heroik seputar menjaga waktu (super hero itu adalah pahlawan yang menjaga waktu, dan bukan semata menumpas kejahatan). Berikut ini kami suguhkan sedikit gambaran kegigihan para ulama dalam menjaga setiap waktunya.

Petuah Emas

Hasan al-Bashri berkata, “Sungguh saya telah berjumpa dengan beberapa orang, mereka lebih bersungguh-sungguh dalam menjaga waktu daripada kesungguhan kalian untuk mendapatkan dinar dan dirham.” (Syarhus Sunnah, juz: 14).

Hammam bin al-Haris berdoa, “Ya Allah, cukupkanlah diriku dengan sedikit tidur dan anugerahkan kepadaku bangun malam dalam ketaatan.” (Shifatus Shafwah, 3:22)

Ibnu Aqil al-Hanbali mengisahkan perjalanannya menuntut ilmu dan fokus terhadap apa yang ia cita-citakan sehingga ia menjadi seorang ulama yang terpandang. Beliau mengatakan, “Tidak halal bagiku untuk menyia-nyiakan sesaat saja dari umurku, tatkala lisanku telah membaca dan berdiskusi, mataku lelah membaca, maka aku menggunakan pikiranku dalam keadaan beristirahat dan berbaring. Sehingga aku berdiri dalam keadaan ide-ide yang banyak dalam benakku lalu, aku tuangkan ide tersebut dalam tulisan. Aku dapati kesungguhanku dalam belajar lebih kuat saat aku berusia 80 tahun dibanding waktu aku berumur 20 tahun.” (al-Muntadzim fi Tarikhil Umam, juz: 9).

Amir bin Abdul Qais rahimahullah melewati orang-orang pemalas dan senang menganggur. Mereka duduk berbincang-bincang tanpa arah, lalu menyapa Amir dengan mengatakan, “Kemarilah, duduklah bersama kami.” Amir menjawab, “Tahanlah matahari agar ia tidak bergerak, baru saya akan bergabung duduk-duduk dan berkelakar bersama kalian.” (Dikutip dari kisahmuslim.com/3604).

Buku Kisah Hidup Ulama Rabbani, Penulis: Abdul Fatah bin Muhammad, Penerbit: Zam-Zam Air Mata Ilmu, Buku cetak edisi hardcover, tebal buku 464 halaman, ukuran buku 16 x 23,5 cm, dan dengan berat 905 gram. Harga Rp. 95.000,-


Kami Juga Merekomendasikan