Buku Putih Ahlus Sunnah Wal Jama’ah (Pustaka Imam Bonjol)

Penerbit: Pustaka Imam Bonjol


  • 65.000,00
Ongkos kirim dihitung saat checkout


Buku Putih Ahlus Sunnah Wal Jama’ah

Oleh: Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin, Pustaka Imam Bonjol

Allah Subhanahu wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam pada masa vakum kenabian, manusia hidup dalam kondisi jahiliyah sempurna, perpecahan terjadi di mana-mana, kesyirikan menggurita, tatanan moral rusak dan suasana kehidupan tidak mengenal agama Allah, kecuali segelintir mereka yang masih menghargai agama Nabi Ibrahim ‘alaihissallam. Bahkan mereka menyembah sesembahan selain Allah, dengan dalih melestarikan keyakinan nenek moyang, sebagaimana firman Allah Ta’al:

بَلْ قَالُوا إِنَّا وَجَدْنَا آبَاءَنَا عَلَىٰ أُمَّةٍ وَإِنَّا عَلَىٰ آثَارِهِمْ مُهْتَدُونَ

“Bahkan mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama, dan sesungguhnya kami orang-orang yang mendapat petunjuk dengan (mengikuti) jejak mereka.” (Surat az-Zukhruf: 22)

Mereka tidak mempunyai sandaran ketika berbuat kesyirikan kecuali hanya mengikuti jejak para leluhur mereka. Jika mereka sedang berselisih pendapat, yang menjadi pegangan utama adalah ucapan para tokoh dan hukum adat hasil racikan nenek moyang mereka. Sehingga yang terjadi bukanlah kebaikan yang bisa menerangi kehidupan, tetapi kehinaan dan kehancuran yang mereka dapatkan.

Kemudian Allah Azza wa Jalla menurunkan petunjuk syari’at dan cahaya Islam untuk menyatukan perselisihan mereka melalui perantara Nabi Muhammad. Maka mereka menjadi manusia yang hidup di bawah naungan Islam dan aqidah yang bersih, tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah dan tidak takut kecuali hanya kepada-Nya, serta tidak berhukum dalam urusan agama dan dunia kepada selain Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah Tabaraka wa Ta’ala mengutus Nabi Muhammad membawa dua wahyu yang sangat sakral yaitu al-Qur’an dan as-Sunnah sebagai landasan beragama. Allah Ta’ala berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (Surat an-Najm: 34)

Dan Allah Ta’ala tidak mengambil kembali Nabi-Nya ke alam baka melainkan setelah menyempurnakan agama-Nya. Sehingga beberapa bulan sebelum beliau wafat, pada saat haji Wada’, turunlah firman Allah:

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.” (Surat al-Mai’dah: 3)

Yahya bin Yahya berkata, “Membela sunnah lebih utama daripada jihad.” Dalam rangka menegakkan jihad akbar tersebut, maka saya berusaha menulis sebuah buku berjudul “Buku Putih Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.” Secara umum buku ini mengupas secara lugas dan tuntas tentang kedudukan dan kehormatan sunnah dalam Islam, penjelasan tentang benih penolakan syari’at yang ditebar oleh musuh Islam lewat pengibaran bendera anti sunnah dan gerakan Zindiq yang merusak ajaran Islam dan citra kaum muslimin.

Buku Putih Ahlussunnah Wal Jamaah Penerbit Pustaka Imam Bonjol, Buku cetak edisi softcover, tebal buku 402 halaman, ukuran buku 15,5 x 24 cm, dan dengan berat 793 gram. Penulis: Zainal Abidin bin Syamsuddin, Penerbit: Pustaka Imam Bonjol, Harga Rp. 65.000,-